Asyari Usman: Mengapa Dipersidangan HRS Dizalimi dan Dihinakan?

Jakarta, mediadakwah.id – Adu argumen atara Habib Rizieq Syihab (HRS) dengan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur berakhir tanpa hasil. Berikut potongan adu argument antara HRS dengan hakim dalam sidang kasus kerumunan Petamburan dan Megamendung di PN Jaktim, Jum’at, 19 Maret 2021.

HRS: “Maaf, Majelis Hakim, kemarin, kemarin seminggu yang lalu, kita sama tahu para koruptor Djoko Tjandra, jaksa Pinangki, Irjen Napoleon Bonaparte, bisa hadir dalam ruang sidang, kenapa saya tidak bisa?”

Hakim: Maaf ya, Habib, itu beda. Habib ini banyak simpatisannya. Ketika hadir di sini, banyak kerumunan itu, itulah perbedaan Habib dengan yang lain, bukan diskriminasi. Tolong dipercaya, tidak ada diskriminasi di sini, Habib.

HRS: Untuk bisa dipertimbangkan, kalau alasannya ada kerumunan massa yang begitu banyak, saya siap untuk bantu Majelis Hakim, saya siap bantu.

Habib pun sampai dongkol karena tidak menerima keadilan. Ia cuma mau sidang dilakukan secara ofline. Bahkan saat diminta hakim mengajukan keberatan atas dakwaan jaksa, ia memilih acuh dan diam sembari fokus mengaji. 

“Baik, karena saudara terdakwa tidak bersedia menjawab pertanyaan majelis hakim, maka majelis hakim sudah bermusyawarah bahwa terdakwa dianggap tidak menggunakan haknya untuk mengajukan keberatan atau eksepsi di dalam perkata ini,” kata hakim Khadwanto seperti dikutip oleh beberapa media.

Hakim pun memberikan kesempatan baginya untuk mengajukan keberatan sampai selasa mendatang (23, Maret 2021).

Melihat hal ini, wartawan senior Asyari Usman, tidak tinggal diam. Lewan akun facebook-nya, ia membela HRS habis-habisan. Dengan tegas ia menyatakan Habib Rizieq bukan penjahat! Dia cuma mencari keadilan. 

“Ingatlah, wahai para penguasa! H125 bukan meminta perlakuan istimewa. Dia tidak meminta apa-apa dari kalian. Dia hanya meminta agar dihadirkan langsung di ruang sidang PN Jakarta Timur untuk mengikuti persidangan atas dirinya. Dia meminta itu bukan karena gagah-gagahan. Bukan karena ingin menghambat. Beliau meminta hadir langsung disebabkan rasa tak nyaman mengikuti sidang online (daring). 

Tuan-tuan yang terhormat. Hati-hatilah kalian. H125 itu bukan penjahat seperti yang kalian persepsikan lewat penangkapan, penahanan, pendakwaan dan penyidangan. Dia hanya berusaha memperjuangkan keadilan. Dia berjuang agar bangsa dan negara ini bebas dari berbagai kejahatan yang Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM).

Yang melakukan kejahatan di Indonesia ini adalah mereka yang rakus, sadis, bengis. Bukan H125. Merekalah yang menggarong kekayaan rakyat di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dlsb. Bukan H125. Mereka yang menilap dana Covid-19 sampai triliunan rupiah. Bukan H125.

Mereka pula yang melakukan korupsi lobster, Jiwasraya, Asabri, Bumiputra, Pertamina, BLBI, Century, dll. Bukan H125. Mereka yang membangkrutkan maskapai Garuda Indonesia. Bukan H125. Mereka yang membuat PLN tumpur-lebur. Bukan H125. Mereka yang mencuri uang e-KTP. Bukan H125.

Mereka yang melindungi Tuan Joko Tjandra (JK). Bukan H125. Mereka yang membuatkan surat jalan untuk JT ketika dia menyeludup masuk dari pelarian di luar negeri. Bukan H125. Mereka yang mengusahakan penghapusan “red notice” Interpol Joko Tjandra dengan cara menyogok. Bukan H125. Mereka yang mau membuatkan fatwa bebas Mahkamah Agung (MA) untuk JT dengan proposal 150 miliar. Bukan HR125

Tapi, mengapa H125 yang dizalimi? Yang dikejar-kejar sampai ke lubang cacing? Yang, konon, diskenariokan akan mendekam di penjara sampai usai Pilpres 2024?

Hati-hatilah, kawan. Jangan kalian hinakan H125. Dia bukan penjahat. Ingat, dunia ini berputar. Semua orang memperhatikan kezaliman kalian,” tulis Bang Usman pada 20 Maret 2021.

Red: Jaka Setiawan
Rep: Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here