Bagaimana Konsep Islam tentang Keluarga Sakinah?

Ilustrasi

Oleh: Dra. Hj. Andi Nurul Djannah, Lc.

Ketua Umum PP Muslimat Dewan Dakwah

Al Qur’an menyebutkan, tujuan pernikahan antara lain memperoleh ketenangan (sakinah). Keluarga sakinah berarti keluarga yang tenang, damai, tidak banyak konflik serta mampu menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Keluarga sakinah berarti pula keluarga bahagia yang diliputi rasa cinta mencintai (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), yang dirasakan oleh seluruh keluarga.

Idealnya keluarga didalamnya terdapat hubungan suami istri yang serasi dan seimbang, tersalurkan nafsu seksual di jalan yang diridhoi Allah SWT, terdidiknya anak-anak yang sholeh dan sholehah, terpenuhi kebutuhan lahir dan batin seluruh anggota keluarga, terjalinnya hubungan persaudaraan yang akrab di antara keluarga besar (dari kedua belah pihak), dapat menjalankan ajaran agama dengan baik, menjalin hubungan baik dengan tetangga dan dapat bermasyarakat dan bernegara dengan baik.

Akan tetapi itu semua tidak terbangun secara instan. Pembentukan keluarga sakinah dimulai dari tahap pencarian jodoh. Ada rambu-rambu yang harus diperhatikan ketika memilih jodoh dan memutuskan untuk menikahinya.

Kita bisa lihat surah Al Baqarah ayat 221:

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu”.

Panduannya sangat jelas, dalam memilih jodoh hindari wanita musyrik atau laki-laki musyrik (dalam lanjutan ayatnya) karena sudah dipastikan tidak akan sakinah.

Di dalam surah Al Mumtahanah ayat 10 Allah SWT lebih detail merinci wanita/laki yang dilarang menikah dengannya, yaitu orang kafir (kafir millah, kafir musyrik, kafir munafik dan kafir ahlu kitab).

Ada beberapa kategori perempuan yang juga dilarang dinikahi, yaitu ibu tiri, ibu kandung, anak perempuan (anak kandung), saudara perempuan, saudara perempuan bapak, saudara perempuan ibu (para tante dari pihak ayah dan ibu), keponakan perempuan (anak dari saudara laki-laki dan dari saudara perempuan), ibu susu, saudara perempuan sesusuan, ibu mertua, anak perempuan istri (anak tiri) yang ibunya telah dicampuri, menantu perempuan, dua perempuan bersaudara (Surah An Nisa 22-24).

Setelah memperhatikan beberapa ketentuan diatas ada hadits Nabi yang menjadi himbauan bagi kita dalam menentukan jodoh agar terwujud sakinah dalam rumah tangga yaitu :

Dinikahi Perempuan karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya karena itu akan menyelamatkanmu. (Bukhari Muslim)

Disamping memperhatikan hukum-hukum Al Qur’an maka kita juga harus memperhatikan hukum positif dalam membangun dan mewujudkan keluarga sakinah, yaitu keabsahan dan kekuatan hukum pernikahan yang dijalani. Pernikahan yang halal dan tercatat di catatan sipil diperlukan untuk menjamin ketenangan batin (sakinah) dalam rumah tangga.

Anjuran Islam lainnya, mengadakan akad nikah, yaitu pemberitahuan atau pengumuman berupa resepsi atau walimatul urusy. Tentu saja ini semua untuk menghindari adanya fitnah yang akan menjadi duri dalam pernikahan dan penghalang mencapai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here