Beda Sikap MUI Pusat dan Jatim Soal Vaksin AztraZenaca

Ketua Komisi Fatwa MUI, Kiai Haji Asrorun Niam, saat memberikan penjelasan terkait kebolehan menggunakan vaksin AstraZeneca. (Foto: MUI)

Jakarta, Mediadakwah.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat melalui Komisi Fatwanya menyampaikan kebolehan pemakaian vaksin AstraZenaca untuk mengatasi masalah pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Namun demikian, vaksin AstraZenaca tetap dilabeli haram oleh Komisi Fatwa MUI pusat karena dalam tahapan produksinya memanfaatkan enzim yang berasal dari babi.

“Walau demikian penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZenaca pada saat ini hukumnya dibolehkan,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Kiai Haji Asrorun Niam Sholeh dikutip dari laman MUI.or.id, Selasa (23/3/2021).

Tetapi sikap yang berbeda ditunjukkan oleh MUI Jawa Timur (Jatim) terkait status vaksin AstraZeneca. Mereka menyatakan vaksin dari negara Inggris itu berlabel halal.

Keputusan MUI Jatim itu berlandaskan pada alasan istihalah yaitu perubahan benda yang awalnya berstatus najis menjadi suci mutlak, merujuk pada mahzab Hanafiyah dan Malikiyah.

Istihalah tersebut dianalogikan dengan perubahan buah anggur yang awalnya suci namun kemudian diubah menjadi khamr yang hukumnya najis, yang kemudian khamr juga bisa kembali suci karena dijadikan cuka.

Sedangkan MUI Pusat tidak beranggapan demikian. Mereka tidak menganggap bahwa bahan baku yang berasal dari babi dan keturunannya tidak bisa menjadi suci mutlak. Hal ini berdasarkan pada prinsip kehati-hatian dan keluar dari polemik sesuai dengan mahzab Syafi’iyah.

Red: Daulat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here