Begini Menariknya Jadi Taqwa Menurut Imam al-Ghazali dan Imam al-Haddad

Oleh: Fatih Madini (Mahasiswa STID Mohammad Natsir)

Dalam kitab Ayyuhal Walad, Imam al-Ghazali menceritakan bahwa ada satu murid bernama Hatim al-Asham yang ketika itu sudah menyelesaikan pembelajaran selama 30 tahun dengan gurunya bernama Syaqiq al-Bakhi.

Si murid pun ditanya oleh sang guru, Kamu sudah belajar dengan saya selama 30 tahun, apa saja yang telah kamu dapatkan selama ini?” Hatim-pun segera menjawab, “saya telah mendapat 8 pelajaran, namun itulah pelajaran yang menurut saya merupakan intisari ilmu.”

Salah satu pelajaran yang dia dapatkan adalah mengenai manusia yang mulia. Dia mengatakan:

Aku melihat sebagian manusia menyangka bahwa kehormatan dan kejayaannya terletak pada banyaknya pengikut dan pendukung, sehingga mereka mereka tertipu oleh para pengikut itu. Sebagian manusia lainnya menyangkan bahwa kehormatan itu terletak pada melimpahnya kekayaan dan benyaknya anak, sehingga mereka berbangga karena itu. Sebagian manusia lainnya meyakini bahwa kehormatan dan kejayaan itu didapat dengan menghambur-hamburkan kekayaan dan berfoya-foya. Kemudian akupun merenungkan firman Allah swt, “Inna aqramakum ‘inda Allah aqtqakum.” Aku pun memilih taqwa karena yakin bahwa Al-Qur’an itu sungguh-sungguh benar, sedangkan semua sangkaan dan dugaan mereka salah dan tiadalah abadi.”

Begitulah Islam memandang kemuliaan. Tolak ukur kemuliaannya berbeda dengan standar orang-orang jahiliyah dahulu dan Barat saat ini. Dimana standar kemuliannya fisik semata.

Orang yang mulia adalah yang mempunyai keturunan agung, kaya, anaknya banyak, fisiknya bagus, pandai bersya’ir (menyanyi), status sosialnya tinggi, pengikutnya banyak, popularitasnya luar biasa, dll. Sedangkan dalam Islam, orang mulia adalah orang yang taqwa.

Kalau standar Barat yang dipakai, tidak akan ada keadilan. Fisik bagus misalnya. Bukankah itu takdir? Manusia tidak bisa memesan kepada Allah fisik seperti apa yang ia mau, sehingga aneh kalau hal yang “sudah dari sananya” dijadikan tolak ukur. Maka jangan aneh kalau rasisme terhadap orang kulit hitam banyak terjadi di Barat.

Berbeda dengan Islam. Bagaimana pun fisiknya, apa pun warna kulitnya, kalau dia taqwa, maka dia mulia. Dan pada dasarnya, setiap orang pasti bisa taqwa.

Baik-buruknya keturunan, banyak-tidaknya harta, indah-tidaknya fisik, tinggi-rendahnya akal dan status sosial, serta pandai-tidaknya bersyair, tidak menjadi faktor tinggi-rendahnya ketaqwaan seseorang. Di sinilah keadilan Islam tampak.

Bilal bin Rabah buktinya. Saat itu, nama Bilal betul-betul diangkat setinggi-tingginya oleh Nabi Muhammad. Bahkan suara bakiaknya pun sudah sampai ke surga sebelum ia wafat dan didengar langsung oleh Nabi tatkala Mi’raj.

Ada satu ungkapan menarik dari para ulama terkait ini: “Al-Janntu liman at-taqa, wa lau ‘abdan Habasyiyyan. Wa an-naru liman ‘asha, wa lau sayyidan Qurasyiyyan” (Surga itu bagi orang yang bertaqwa, walaupun dia merupakan keturunan budak Habasyi. Sementara neraka itu bagi orang yang bermaksiat, walaupun dia adalah pemimpin Quraish).

Dalam muqaddimah kitab Risalah al-Mudzakarah-nya, Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad juga banyak membahas seputar taqwa. Mulai dari definisi, dalil Qur’an, Hadits, dan Atsar, sampai keutamannya.

Yang hendak saya “highlight” kali ini adalah beberapa keuntungan yang akan didapat oleh orang-orang bertaqwa selain kemuliaan (sebagaimana yang tadi sudah dijelaskan).

Pertama, diberi jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga oleh Allah. Sebagaimana firmanNya: “Wa man yattaqi Allah yaj’allahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib.”

Kedua, petunjuk (hidayah) dari Allah. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dzalika al-kitaabu laa rayba fiihi, hudan li al-muttaqin.”

Ketiga, diberi kemampuan untuk bisa membedakan mana haq mana batil, mana halal mana haram. Serta ditutupi dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah. Kata Allah: “An ittaqu Allah yaj’allakum furqanan wa yukaffiru ‘ankum sayyiaatikum wa yaghfiru lakum.”

Keempat, diberi pertolongan (al-wilayah) oleh Allah. Berdasarkan firmanNya: “Wa Allah waliyy al-muttaqin.”

Kelima, al-ma’iyyah atau kebersamaan. Maksudnya Allah selalu membersamainya. Sebagaimana kalamNya: “Wa i’lamuu anna Allah ma’a al-muttaqin.” Imam al-Haddad memaknai kata “ma’a” disitu sebagai pertolongan, penjagaan, serta pemeliharaan Allah atasnya dari segala hal yang buruk.

Keenam, diberi keselamatan oleh Allah. Allah berfirman: “Tsumma nunajji al-ladziina ittaqaw.”

Ketujuh, Allah janjikan surga. Kata Allah: “Tilka al-jannatu al-lati wu’ida al-muttaqun”, “Inna li al-muttaqin ‘inda rabbihim jannatu al-na’im”, dan “Wa uzlifat al-jannatu li al-muttaqin ghaira ba’id.”

Masih banyak lagi sebetulnya segala kebaikan yang indah, keutamaan yang agung, dan pemberian yang amat banyak dari Allah kepada orang-orang bertaqwa. “Cukuplah penyebutan kata taqwa pada lebih dari 70 tempat dalam kitab-Nya menunjukkan betapa mulianya ketaqwaan itu,” ujar sang Habib.

Selasa, 20 April 2021/8 Ramadhan 1442

Red: Jaka Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here