Beginilah Seharusnya Seorang Muslim Memandang Dunia

Jakarta, Mediadakwah.net – Masih segar di dalam ingatan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan masyarakat yang menolak satu Rancangan Undang-Undang kontroversial di Gedung DPR-RI, Jakarta, pada beberapa waktu yang lalu.

Namun, kontras dengan tujuan mulia unjuk rasa tersebut, ada pemandangan miris yang ditunjukkan oleh sejumlah mahasiswi yang dengan bangganya mengangkat poster bertuliskan “Selangkanganku bukan milik negara!”

Bila ditelusuri lebih jauh, timbulnya ekspresi demikian mencerminkan kegagalan dalam menjalani orientasi kehidupan yang benar. Selain itu, mengingat yang melakukan hal itu adalah seorang terpelajar, maka kesalahan orientasi tersebut juga merupakan kegagalan pendidikan.  

Dalam satu perkuliahannya bertajuk Studi Dasar Islam, Dr. Imam Zamroji – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammad Natsir – mengungkapkan, pengaruh dari paham materialisme dan sekularisme telah mengacaukan tujuan kehidupan manusia.

Berdasarkan contoh di atas, apa yang coba dibela oleh sejumlah mahasiswi tersebut hanyalah permasalahan keduniaan yang terlepas dari aspek ukhrawi, sehingga tak heran tujuannya seputar memuaskan hawa nafsu dengan bebas.

Ini menjadi pertanyaan, apa yang mereka pelajari selama ini? Mengapa ilmu yang mereka dapat di perguruan tinggi justru tidak berguna membentuk orientasi yang hakiki, seolah tujuan dan kebahagiaan sejati begitu terbatas pada ruang dunia yang sempit?

Dalam kontes dakwah, problem orientasi semacam ini kerap menjangkit di tengah masyarakat (umat Islam). Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai dai untuk mengentaskan orientasi yang bernuansa sekular-materialis tersebut dengan memberikan alternatif, yakni orientasi akhirat dengan jalan dunia.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seperti seorang asing atau penyeberang jalan” (HR. Al-Bukhari no. 6085). Hadits ini kerap disandingkan dengan pembahasan terkait renungan sebelum kematian, sehingga penyampaiannya sering ditujukan hanya kepada orang tua.

Padahal, berdasarkan tinjauan sejarah yang disampaikan oleh Dr. Imam, pesan ini disampaikan Nabi Saw kepada Abdullah bin Umar yang kala itu masih berusia belia. Itu berarti nasehat ini bersifat universal, dan orientasi yang dikandungnya perlu dikembalikan lagi kepada tempatnya, bukan sekedar perkataan mutiara tapi juga harus dikembangkan sebagai konten pendidikan.

Ibnu Qayim al-Jauziyyah, menuliskan komentarnya tentang hadits ini sebagai berikut: “Manusia sejak diciptakan senantiasa menjadi musafir, batas akhir perhentian perjalanan mereka adalah Surga atau Neraka” (al-Fawaid, hlm. 400). Analogi “orang asing” dan “menyeberang jalan” yang digunakan Rasulullah SAW tadi, dijelaskan oleh Ibnu Qayyim adalah pentunjuk bahwa manusia adalah musafir di dunia.

Manusia sejatinya adalah penghuni surga, sebagaimana Nabi Adam as – yang kendati diamanahkan untuk menjadi Khalifah di muka bumi, sesungguhnya telah diberikan tempat tinggal di surga (QS [2]: 30).

Lebih lanjut lagi Dr Imam menjelaskan, apa yang disebut Rasulullah SAW sebagai “mengarungi dunia seperti menyeberangi jalan”, bila diperhatikan adalah perintah untuk menyeberang jalan itu (dunia) dengan memerhatikan dan memahami informasi yang ada (syariat), yaitu ilmu yang memberikan keberanian dan kehati-hatian agar tidak terpedaya indahnya pemandangan dunia itu, dan melupakan tujuan yang sebenarnya.

Sebagaimana aktivitas menyeberang yang memiliki tujuan untuk tiba di satu tempat, hendaknya manusia memandang dunia (tempat kita menyeberang) hanya sebagai tempat bersinggah atau lewat, bukan tujuan atau orientasi sesungguhnya.

Kematian atau dalam konteks ini adalah sampainya kita kepada “sebrang jalan”, bukanlah akhir dari segalanya, sebab di ujung kehidupan kita ialah hidup di dua alternatif: surga atau neraka.

Dari pemahaman tersebut, dapat terlihat adanya korelasi yang signifkan antara visi menuju Surga dengan menuntut ilmu, bahkan Allah berfirman akan memudahkan para penuntut ilmu (yang ilmunya digunakan dengan benar) untuk masuk surga (QS [2]: 280).

Dunia ini memang penting dan strategis, sebab ia menentukan hisab seorang manusia di akhirat. Namun menimbang sifatnya yang pendek, seorang manusia dalam menjalani kehidupannya, membutuhkan efisiensi dan optimalisasi waktu, agar ia terpacu memanfaatkan dunia ini untuk memperoleh sebanyak-banyak hasil di akhirat.

Sesuai dengan rukun tauhid yang berisi penafian (nafiyyun) dan penetapan (itsbat), maka kita juga sebagai manusia yang berilmu perlu melakukan penghapusan terhadap paham yang menggerus aspek akhirat dalam kehidupan, dan menetapkan orientasi akhirat dalam menjalani kehidupan dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here