Bertanya dan Berpikir

Fatih Madini

Oleh: Fatih Madini
(Mahasiswa Program Jurnalis Profesional STID Mohammad Natsir)

Dengan apa anda memperoleh ilmu?” tanya seseorang kepada Ibnu ‘Abbas. Salah satu pakar tafsir di kalangan sahabat itu pun menjawab, “dengan lisan yang selalu bertanya dan hati/akal yang selalu berpikir” (bi lisaanin sauulin wa qalbin ‘aquulin). Begitulah sekelumit kisah yang dituturkan al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim-nya.

“Bertanya itu setengah ilmu,” ujar seorang ulama. “Malu bertanya, sesat di jalan,” tutur pribahasa. “Penuntut ilmu itu sering dijuluki ‘ma taquul‘ (kalimat bahasa Arab yang sering digunakan untuk bertanya), karena saking banyaknya dari mereka yang selalu mendengungkan kalimat pertanyaan berupa ‘Ma taquul fi hadzihil mas’alah?” Tulis al-Zanuji dalam kitab yang sama.

Syarat pertama memperoleh ilmu adalah “dzaka” atau kemauan memfungsikan akal dengan baik dan sungguh-sungguh, tegas Naashir al-Sunnah, Imam Syafi’i. “Siapa yang sedikit berpikir, maka akan banyak berbuat kesalahan,” tutur Leonardo Davincy.

“Berpikirlah sebelum bertindak” dan “Teman yang berakal lebih baik dari yang jaahil,” tegas mahfuzat. “MIKIR!” singgung Cak Lontong. Dan unsur utama yang membedakan antara manusia dan hewan adalah akal. Sehingga kewujudannya sebagai manusia akan dipertanyakan manakala unsur itu tak difungsikan dengan baik.

Setidaknya, cukuplah dua paragraf di atas menjadi penegas paragraf pertama, sekaligus dalil akan pentingnya bertanya dan berpikir.

Kata guruku, jangan sampai penuntut ilmu betah dengan ketidakpahaman. Saatnya sadari kapasitas akal. Kalau memang ada kekurangan berupa sulit memahami, jangan pula didiamkan dalam lubang kebodohan. Segera hampiri ahli ilmu, dan tanyalah apapun yang tidak dimengerti. Lebih-lebih, ketika para ahli ilmu masih menghiasi alam ini. “Fa is’alu in kuntum la ta’lamun” (tanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui), tegasNya.

Tapi satu hal yang perlu diingat, jangan sampai semangat kita dalam bertanya harus mengikis dan meruntuhkan adab bertanya, layaknya pertanyaan Bani Israil kepada Nabi Musa dan pertanyaan Ibunda Sukmawati soal jasa sang proklamator dan Nabi Muhammad terhadap kemerdekaan Ibu Pertiwi.

Kata guruku juga, jangan sampai membuang-buang waktu dengan menuntut ilmu tapi tidak mengaktifkan akal. Dalam artian, ia tidak fokus mendengarkan dan memikirkan apa yang sedang dipelajarinya. Serendah apapun kapasitas akalmu, kemauan dan kesungguhanmu dalam mengaktifkan akal ketika belajar tak akan pernah membohongimu. “Usaha tak akan mengkhianati hasil,” sahut pribahasa. Lebih baik paham satu ilmu dan bermanfaat, ketimbang tidak sama sekali dan hanya menguras umur, waktu, amal, dan hembusan nafas.

Tapi kalau kau masih bertanya juga untuk apa manusia berpikir, cukuplah aku menjawab dengan pertanyaan, “Untuk apa ikan berenang.” Ingatlah, aktivitas berpikir adalah cara terbaik untuk menghargai dan mensyukuri nikmat akal.

Kalau sudah, langkah selanjutnya adalah memikirkan apa yang hendak dipikirkan. Karena sebagaimana ulama berkata: “kemuliaan akal manusia tergantung pada apa yang dipikirkannya.” Menurut murid setia Plato, Aristoteles, memikirkan keberpikiran manusia adalah hal yang paling mulia. Itulah mengapa ilmu logika (tentang teori dan hukum berpikir) lahir di tangannya. Dan aktivitas inilah tahapan yang lebih tinggi dalam menghargai dan mensyukuri nikmat akal.

Terakhir, antara bertanya dan berfikir itu mempunyai korelasi yang nyata. Dimana pertanyaan tak akan dimunculkan tanpa adanya proses berpikir terlebih dahulu. Berpikir menunjukkan keseriusan dan fokus dalam belajar. Sehingga muncullah kemampuan untuk memilah mana ilmu yang sudah dan belum dipahami. Dari situlah muncul pengetahuan tentang apa yang hendak ditanyakan. Namun permasalahannya ada pada kemauannya dalam bertanya. Tapi, ‘ala kulli hal, pertanyaan mesti didahului aktivitas berpikir. Jangan harap bisa bertanya kalau tidak pernah mikir. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here