China Keluarkan Laporan Tandingan Pelanggaran HAM Amerika

GT/Chen Qingqing

BEIJING, mediadakwah.id – Kantor Informasi Dewan Pemerintahan China menerbitkan laporan situasi HAM AS tahunan pada hari Rabu, (24/3/2021) di saat perseteruan AS dan China meningkat, terutama atas Xinjiang dan masalah domestik lainnya. 

Laporan berjudul The Report on Human Rights Violations in the United States in 2020 tersebut menyoroti COVID-19 yang berubah menjadi tragedi kemanusiaan, kekacauan dalam demokrasi Amerika, puncaknya kerusuhan Capitol, dan diskriminasi yang berkembang baru-baru ini terhadap etnis minoritas termasuk Asia-Amerika. China mengecam catatan hak asasi manusia AS yang mengerikan ini. AS menurut China sering membuat pernyataannya tentang situasi HAM negara lain murni, sikap ini dianggap China sebagai “kemunafikan dan standar ganda.”

Laporan 15.000 kata itu, dalam tujuh bab utama, dimulai dengan kalimat yang sekarang terkenal, “I can’t breathe!” atau “Saya tidak bisa bernapas!” dibuat oleh George Floyd, seorang Afrika-Amerika, sebelum dia meninggal setelah seorang polisi kulit putih menunci leher Floyd dengan lututnya, sehingga memicu protes nasional. Namun, kerusakan paling mencolok dalam situasi HAM di tengah COVID-19 di AS disebabkan oleh kegagalan tata kelola, kata laporan itu.

Epidemi menjadi tidak terkendali dan berubah menjadi tragedi kemanusiaan karena tanggapan pemerintah AS yang sembrono, ulas laporan tersebut. Pada akhir Februari 2021, AS, rumah bagi kurang dari 5 persen populasi dunia, menyumbang lebih dari seperempat kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di dunia dan hampir seperlima kematian global akibat penyakit tersebut.

Dibandingkan dengan laporan sebelumnya, laporan tahun ini menyoroti definisi China tentang HAM, yang menempatkan kehidupan dan kesehatan manusia sebagai prioritas, Ujar Chang Jian, direktur Pusat Penelitian Hak Asasi Manusia di Universitas Nankai yang berbasis di Tianjin yang merupakan salah satu perancang laporan, Rabu, (24/3/2021). 

Ini mengimbangi definisi sebelumnya tentang HAM yang didominasi oleh masyarakat Barat pimpinan AS yang hanya menekankan penghormatan terhadap HAM sambil melakukan sedikit tindakan. Namun, setelah melalui pandemi COVID-19, orang-orang di dunia mulai menyadari bahwa China tidak hanya menghormati, tetapi yang lebih penting, melindungi hak asasi manusia dengan tindakan aktif, kata Chang.  

China biasanya menerbitkan laporan tahunan tentang situasi HAM AS sebagai tanggapan atas laporan tahunan AS tentang praktik HAM yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS setiap tahun. Namun tahun ini, dalam lingkungan geopolitik yang semakin kompleks, pemerintah China berinisiatif mengeluarkan laporannya terlebih dahulu, mengingat meningkatnya pelanggaran HAM di AS akibat kisruh pengendalian pandemi dan langkah-langkah pencegahan, arogansi dan tidak bertanggung jawabnya para pemimpin negara, polarisasi politik yang berkembang, diskriminasi tingkat tinggi, kejahatan rasial, dan kekerasan senjata, menurut para ahli yang menyusun laporan tersebut. 

Red: Jaka Setiawan
Sumber: Global Times

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here