Dr. Adian Husaini: Begini Kiat Menjadi Guru Keluarga Yang Tepat

Setiap Anak adalah potensi bangsa yang luar biasa. Namun, ia akan menjadi sia-sia kalau tidak “dipoles” dengan baik dan benar. Di sinilah peran orang tua sebagai pendidik keluarga dipertaruhkan.

Sudah semestinya di era ini, orang tua menguasai ilmu-ilmu bagaimana mendidik anak dengan benar dan sesuai ajaran Islam. 

Menafsirkan surat At-Tahrim ayat enam, Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa cara melindungi keluarga dari api neraka adalah dengan menanamkan adab dan mengajarkan ilmu. “Addibuuhum wa ‘allimuuhum,” ujarnya.

Nabi pun pernah bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari). 

Menurut Dr. Adian Husaini dalam bukunya Kiat Menjadi Guru Keluarga: Menyiapkan Generasi Pejuang, Cukuplah dua paragraf di atas menjadi dalil akan begitu mendesaknya pendidikan orang tua saat ini.

Di buku yang sama, pria asal Bojonegoro itu juga merumuskan kiat-kiatnya. Yakni dengan menguasai enam ilmu. Kalaupun tidak dikuasai secara mendalam, ia tetap yakin, enam ilmu ini pasti bisa menyiapkan orang tua menjadi sebaik-baik guru di era ini. 

Ilmu pertama adalah Islamic Worldview atau pandangan hidup Islam. Yakni tentang bagaimana Islam memandang Tuhan, wahyu, agama, Nabi, manusia, dunia dan akhirat, kebahagiaan, dan lain sebagainya.

Kedua, Konsep Ilmu dan Pendidikan dalam Islam. Khususnya masalah penanaman adab dan pengajaran ilmu fardhu ‘ain yang mesti didahulukan dan diutamakan. 

Ketiga, Fiqhud Da’wah. Supaya setiap orang tua memahami bahwa yang terpenting bukan setelah lulus, anak kerja di mana. Tapi bagaimana ia menjadi sosok pejuang yang bermanfaat bagi umat dengan ilmunya, terlepas tinggi-tidaknya status sosialnya.

Keempat, Fikih Keluarga Sakinah. Tentu saja ilmu ini berguna untuk membentuk kebijaksanaan berpikir dan bersikap dalam setiap anggota keluarga. Khususnya saat menghadapi berbagai macam problem keluarga.

Kelima, Tantangan Pemikiran Kontemporer. Saat ini tantangannya bukan sekadar mereka yang berzina dan berhubungan sesama jenis. Tapi mereka yang mengatakan bahwa zina dan hubungan sesama jenis itu halal dan ada dalilnya. 

Sama halnya dengan mereka yang menganggap dan meyakini bahwa alam semesta tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Bahwa agama jangan dibawa ke politik, hukum, ekonomi, dan pendidikan. Juga pernyataan seperti “semua agama sama, dan sama-sama menuju Tuhan yang sama.”

Tantangannya bukan lagi fisik, melainkan akidah dan pemikiran. Seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme, relativisme, feminisme dll.

Keenam, Sejarah Keagungan Islam. Khususnya di masa Nabi Muhammad, Abbasiyah dan Nusantara. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menumbuhkan rasa bangga (‘izzah) sebagai orang Islam.

“Sekali lagi perlu kita camkan, bahwa tanggung jawab pendidikan anak itu ada pada orang tua; bukan pada sekolah pesantren, atau universitas. Karena itu, penting dan mendesak sekali pemahaman tentang bagaimana ornag tua bisa menjadi guru keluarga. Semoga kelak di akhirat nanti, anak-anak kita tidak menuntut kita, karena mereka tidak mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang benar,” tulis Adian.

Red: Jaka Setiawan
Rep: Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here