Dr. Adian: Sekarang Saatnya Kampus DDII Jadi yang Terbaik

Foto: Istimewa

Yogyakarta, Mediadakwah.id- “Kami berniat menjadikan STID bersama ADI-ADI-nya menjadi lembaga pendidikan terbaik yang hakiki. Bukan sekadar menghasilkan produk yang tinggi status sosial dan banyak ilmunya, tapi mereka yang taqwa, beradab, dan bermanfaat bagi umat, sekalipun sedikit ilmunya. Sebagaimana perintah Allah, Nabi, konstitusi pasal 31 ayat 3, dan pakar pendidikan Islam internasional, Syed Muhammad Naquib al-Attas.”

Begitulah kalimat penting Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat, Dr. Adian Husaini dan anaknya, Fatih Madini saat memberi kuliah perdana kepada para mahasiswa dan mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) ponpes Al-Bayan dan Ibnul Qoyyim (khusus putri) di Sleman, Yogyakarta.

Sebelum kuliah dimulai, dua ADI itu diresmikan terlebih dahulu olehnya. Dengan diresmikannya dua ADI itu, sudah 21 ADI yang tercatat secara resmi. Acara yang dilaksanakan pada Selasa, 16 Maret 2021 itu juga dihadiri oleh Ketua DDII wilayah Yogyakarta, para sesepuh serta alim-ulama’ di sekitar maupun luar Sleman.

Era ini ditambah dengan adanya Covid-19, telah memaksa setiap hal yang tidak efisien (dalam bidang apapun) untuk berubah. Termasuk dalam bidang pendidikan. Di era internet ini, informasi menjadi sangat murah sehingga pembelajaran pun bisa dilakukan dari rumah secara online

“Selama tersambung dengan internet, kita sudah menjadi warga global. Bahkan apa yang diajarkan di kampus-kampus formal yang terakreditasi tinggi, dapat kita temukan lewat internet,” kata pria yang juga dikenal sebagai pengamat pendidikan itu.

Fatih Madini saat berbicara kepada mahasiswa ADI. Foto: Istimewa

Maka lanjutnya, inilah saat yang tepat kampus DDII (termasuk ADI) menjadi yang terbaik. Sebab, kampus DDII mempunyai satu elemen yang kampus-kampus lain tidak punya bahkan tidak bisa gantikan oleh internet. Yakni sistem pondok pesantren dan penekanan penanaman adab/akhlak (nilai) dan ruh dakwah. Dengan itu, ia telah menjadi lembaga pendidikan yang efisien di era disrupsi ini.

“Tolak ukur tinggi-rendahnya institusi pendidikan dalam Islam adalah seberapa banyak da’i yang lahir. Sebab idealnya, seorang da’i itu pasti baik, bermanfaat bisa mengamalkan dan mengajarkan ilmu, dewasa, mandiri, dan bisa menjawab soal-soal kehidupan. Artinya, soft skill-nya sudah mumpuni,” kata Tokoh Perbukuan Islam tahun 2020.

Menurutnya, manusia-manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman ini, hanya mereka yang tercukupi soft skillnya. Bahkan orang seperti itu cenderung lebih mudah mempelajari ilmu-ilmu yang sifatnya hard skill, semacam ilmu teknik.

Maka, penulis buku Wajah Peradaban Barat itu mengajak para mahasiswa dan mahasiswi di sana untuk bangga belajar di ADI dan bangga menjadi seorang da’i.

“Jangan khawatir gak dapet ijazah, gak bisa kerja dan jangan itu dijadikan tujuan utama. Sebab, satu-satunya profesi yang dijamin rezekinya oleh Allah adalah pejuang atau da’i. Sebagaimana firman Allah, “Jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kamu,” tegasnya.

Reporter: Fatih Madini (Mahasiswa STID Mohammad Natsir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here