Harun Ar-Rasyid, Khalifah Cerdas Pecinta Ulama

Jakarta, Mediadakwah.id – Nama Harun Abu Ja’far Ar-Rasyid atau yang dikenal sebagai Harun Al-Rasyid mungkin sudah tak asing lagi di telinga umat Islam. Pasalnya, beliau tidak hanya dikenal hebat dalam memimpin tetapi khalifah yang satu ini juga cerdas dan mencintai para ulama.

Saking pintarnya, Imam al-Suyuthi menyebut pemahaman Ar-Rasyid seperti pemahaman para ulama. “Dia adalah seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu dan sangat senang kepada orang-orang yang berilmu,” ujarnya. 

Diceritakan, khalifah Abbasiyah yang satu ini sampai merangkum kitab Hadits Imam Malik bernama al-Muwaththa’.

Rangkuman ini sempat dibaca oleh Shalahuddin al-Ayyubi saat singgah di Iskandariyah. Salah satu kepakarannya adalah dalam bidang kesusasteraan, khususnya yang berkaitan dengan syair-syair.

Syauqi Abu Khalil menyebutkan bahwa tidak ada seorang pemimpin sepertinya yang begitu menghargai, cinta, dan dekat dengan para ulama.

Di antara ulama yang menjadi kawan baiknya ialah Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Abdullah bin Mubarak, Fudhail bin ‘Iyadh, Malik bin Anas, sampai Muhammad bin Idris al-Syafi’i.

Bukti cinta dan penghargaan Ar-Rasyid terhadap para ulama begitu banyak. Pertama, tatkala ia mempercayakan sepenuhnya pengajaran ilmu dan pendidikan adab kedua anaknya, al-Amin dan al-Ma’mun, kepada dua ulama besar, al-Ashma’i dan dan al-Kisa’i. 

Dikisahkan, usai anaknya menuangkan air ke kaki al-Ashma’i untuk berwudhu, Ar-Rasyid memanggil dan menegur keras al-Ashma’i. Bukan hendak memarahi sang guru karena menyuruh anaknya menuangkan air, tapi karena anaknya yang kurang beradab.

“Ketika anda menyuruh anak saya menuangkan air ke kaki anda dengan satu tangan, mengapa tidak anda suruh tangan satunya untuk menggosok kaki anda?” pungkasnya. (Burhanuddin az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim)

Dengan al-Kisa’i pun demikian. Ketika al-Amin dan al-Ma’mun selesai belajar, mereka langsung lari terbirit-birit ke pintu keluar dan bertengkar. Al-Kisa’i yang melihat tingkah laku keduanya pun bingung dan bertanya-tanya mengapa mereka tiba-tiba bertengkar.

Akhirnya ia pun tahu kalau alasannya yaitu mau berlomba-lomba meletakkan alas kaki gurunya. Saat ia mau melerai, spontan, ar-Rasyid mengancam al-Kisa’i dengan teguran yang sangat keras. Al-Kisa’i tidak kehabisan ide. Akhirnya, ia pun meminta masing-masing dari mereka menyiapkan satu alas kaki. (Umar bin Ahmad Baraja, al-Akhlaqu lil Banin)

Kedua, kebiasaannya memberangkatkan haji para fuqaha’ beserta anak-anaknya. Entah ia ikut haji ataupun tidak. Ali Muhammad Ash-Shalabi menyatakan: “Jika Ar-Rasyid melaksanakan haji, maka dia menghajikan seratus ahli fikih dan putra-putra mereka. Dan jika tidak melaksanakan haji, maka dia menghajikan tiga ratus orang dengan nafkah yang sangat cukup dan pakaian yang lengkap.” 

Terakhir, kebiasaannya memberikan banyak dinar dan dirham kepada para ulama, khususnya yang pandai memberi nasihat dan syair. Bahkan, ia pernah membayar 10.000 dinar untuk setiap satu bait syair. Ar-Rasyid selalu senang mendengarnya. Namun, sering pula ia menangis tersedu-sedu karena bait-baitnya. 

Misalnya, kisah Ibnu Abu Hafsh. Saat diminta membacakan syair, syairnya dipuji dan dibalas 10.000 dirham oleh ar-Rasyid. Abu Hafsh membacakan syair lagi dan kembali dipuji serta diberi imbalan yang sama. Dan untuk ketiga kalinya, ia kembali membacakan syair. Saking senangnya, dengan entengnya ia memberi 20.000 dirham. 

Kecintaan, kedekatan, dan penghargaan yang begitu tinggi kepada para ulama inilah yang membuatnya selalu dikenang. Saat ia wafat, banyak ulama yang memujinya dengan bait-bait syair, salah satunya Abu Nawas. Berikut untaian syairnya:

“Kami sedang mengalami kebahagiaan dan kesedihan # Karena kami sedang menghadiri upacara pemakaman dan pernikahan

Hati menangis dan mata tertawa # 
Karena kami berada dalam kegembiraan dan kesedihan

Al-Amien membuat kita bersuka cita # 
Kita menangis atas wafatnya Imam yang lalu 

Dua purnama telah sampai di Baghdad # 
Sedang purnama singgah tenggelam di Thus 

Sumber: Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’ – Syauqi Abu Khalil, Harun Ar-Rasyid: Pemimpin dan Raja yang Mulia – Ali Muhammad Ash-Shalabi, Sejarah Daulah Umawiyah & Abbasiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here