Heboh Oknum Tega Aniaya Kucing, Bagaimana Hukum Perlakukan Binatang dalam Islam?

Ilustrasi. (Foto: net)

Jakarta, Mediadakwah.id – Belakangan ini jagat maya internet geger karena aksi seorang oknum yang tega menganiaya kucing secara brutal. Tak ayal tindakannya pun bikin netizen gregetan melihatnya.

Penganiayaan yang dilakukan oleh oknum yang disinyalir bekerja sebagai salah satu jajaran pimpinan di sekolah swasta di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, itu menyebabkan sang kucing sekarat.

Bahkan dengan pongahnya, dalam sebuah video yang beredar di berbagai macam platform media sosial disebutkan bahwa oknum tersebut mengatakan dirinya berhak menentukan hewan jenis apa yang boleh masuk ke lingkungan sekolah.

Padahal ajaran agama Islam mewajibkan manusia untuk memperlakukan binatang secara adil. Sebab binatang juga merupakan makhluk ciptaan Allah yang harus mendapatkan perlindungan.

Rasulullah dalam hadis riwayat Imam Muslim melarang manusia untuk menjadikan nyawa binatang sebagai taruhan atau permainan:

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya, “Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Jangan kalian menjadikan binatang bernyawa sebagai sasaran bulan-bulanan.” (Hadis Riwayat Muslim)

Dikutip dari NU Online, Imam Izzuddin bin Abdissalam dari mazhab Syafi’i mengaitkan perlindungan atas hak binatang dan prinsip dasar penghadiran maslahat dan penolakan mafsadat (jalbul mashalih wa dar’ul mafasid). Imam Izzuddin yang dujuluki sulthanul ulama ini merinci hak-hak hewan dan binatang yang harus dipenuhi oleh manusia sebagai berikut:

القسم الثالث من أقسام الضرب الثاني من جلب المصالح ودرء المفاسد حقوق البهائم والحيوان على الإنسان، وذلك أن ينفق عليها نفقة مثلها ولو زمنت أو مرضت بحيث لا ينتفع بها، وألا يحملها ما لا تطيق ولا يجمع بينها وبين ما يؤذيها من جنسها أو من غير جنسها بكسر أو نطح أو جرح، وأن يحسن ذبحها إذا ذبحها ولا يمزق جلدها ولا يكسر عظمها حتى تبرد وتزول حياتها وألا يذبح أولادها بمرأى منها، وأن يفردها ويحسن مباركها وأعطانها، وأن يجمع بين ذكورها وإناثها في إبان إتيانها، وأن لا يحذف صيدها ولا يرميه بما يكسر عظمه أو يرديه بما لا يحلل لحمه،

Artinya, “Jenis ketiga yang masuk kategori kedua dalam rangka mendatangkan maslahat dan menolak mafsadat adalah kewajiban manusia dalam menjaga hak binatang ternak dan hewan. Manusia wajib menafkahi dengan pantas binatang tersebut seandainya binatang itu sakit dan tidak dapat diambil manfaatnya; tidak boleh membebaninya dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya; tidak mengumpulkannya dengan hewan sejenis atau hewan jenis lain yang dapat menanduk, memecahkan, atau melukainya; harus menyembelih dengan cara terbaik bila ingin menyembelihnya; tidak mengoyak kulitnya, tidak boleh mematahkan tulangnya sehingga melemahkan dan menghilangkan daya hidupnya, tidak boleh menyembelih anaknya di hadapannya, tidak boleh mengisolasinya, harus menyiapkan alas terbaik untuk dia duduk mendeku; mengumpulkan jantan dan betina pada musim kawin; tidak boleh membuang hasil buruannya; tidak boleh melemparnya dengan alat (keras) yang dapat mematahkan tulangnya; atau melempar/membenturkannya dengan benda yang tidak membuat halal dagingnya.” (Izzuddin bin Abdissalam, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2010 M], juz I, halaman 112)

Red: Daulat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here