Hikmah Kemuliaan Manusia Dalam Islam

ilustrasi

Jakarta, Mediadakwah.id – Sebagai negara yang memiliki keberagaman suku dan ras, sekaligus negara dengan warga Muslim terbanyak di dunia, sudah sepatutnya Indonesia memahami bahwa hikmah dari penciptaan manusia yang berbeda adalah ketetapan Allah Swt.

Ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “Dan di antara tanda-tanda (Kebesaran-Nya) ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa-bahasa dan warna (kulit) kamu. Sungguh, dalam yang demikian itu ada bukti-bukti bagi orang yang mengetahui” (Ar-Rum: 22).

Islam memiliki persepektif yang jelas dalam konsep kedudukan antar manusia. Pada dasarnya, agama ini tidak memandang perbedaan suku dan ras sebagai tolak ukur supremasi ataupun kemuliaan seseorang, melainkan yang paling bertaqwa kepada Allah.

Senada dengan itu, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. (Al-Hujurat: 13).

Bilal bin Rabah RA adalah salah satu contoh sahabat Rasulullah Saw, yang menjadi simbol kemuliaan yang tidak memandang warna kulit ataupun status sosial. Abu Dzar al-Ghifari – seorang Sahabat senior – pernah terlibat perselisihan dengan Bilal bin Rabah.

Ketika amarahnya memuncak, ia mencela ibu Bilal, Hamamah, dengan menyinggung status sosialnya sebagai budak berkulit hitam. Mendengar peristiwa itu, Rasulullah SAW murka, beliau dengan tegas berkata pada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzarr, sesunguhnya masih terdapat sifat Jahiliyah dalam dirimu!’

Menurut Ustadz Asep Sobari, dalam salah satu kajiannya, sisi Jahiliyah yang dimaksud Rasulullah SAW dalam kasus ini adalah ta`azhum bi al-aba’ yaitu, menyombongkan diri dan merasa lebih terhormat daripada orang lain karena faktor keturunan. Atau, menganggap orang lain pantas dihina karena faktor keturunan dan ras.

Jika Bilal bin Rabah saja punya kedudukan yang tinggi, lantas mengapa kita risau mengurus kedudukan manusia berdasarkan warna kulit, suku, atau ras mereka?

Allah tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk membenci atau merendahkan golongan manapun. Karena jelas, dengan agama, khususnya Islam, manusia tidak akan rancu lagi dalam memandang perbedaan dan kedudukan manusia satu sama lain. Ia akan terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah, menghormati orang lain, serta peduli dengan lingkungan sekitar. Sebab hanya dengan cara itulah, kemuliaannya di hadapan manusia akan bernilai di mata Sang Pencipta.

Red: Jaka Setiawan
Rep: Azzam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here