Larangan Jual Beli Patung dan Gambar Makhluk Bernyawa

Ilustrasi. (Foto: net)

Lampung, Mediadakwah.id – Di zaman modern saat ini kita akan menjumpai berbagai orang dengan latar belakang profesi yang beragam. Salah satunya adalah pembuat patung ataupun lukisan dan sejenisnya yang menggambarkan makhluk hidup.

Tidak sedikit orang yang mengandalkan mata pencaharian untuk menopang kehidupannya sehari-hari dengan menekuni kedua profesi tersebut. Namun bagaimanakah hukum keduanya dalam pandangan agama Islam?

Dikutip dari Dewandakwahlampung.com, tedapat dalil hadis yang melarang kita untuk melukis sesuatu yang memiliki ruh dan juga dilarang berprofesi sebagai seorang pelukis gambar semacam itu.

Dari seorang tabiin, Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata,

كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ

“Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma . Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, ‘Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.’ Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kemudian berkata, ‘Tidaklah yang kusampaikan kepadamu selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal, ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.’ Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.’” (HR. Bukhari, no. 2225 dan Muslim, no. 2110)

Adapun berdasarkan dalil di atas maka membuat patung dan lukisan yang menyerupai manusia dan hewan haram hukumnya, tidak boleh dimiliki, dan wajib dimusnahkan walaupun keduanya bukan media untuk melakukan kesyirikan.

Larangan Jual Beli Patung

Sedangkan hukum jual beli patung, sebagian ulama melarangnya karena menurut mereka tidak ada manfaat yang terkandung di dalamnya. Namun ada pula yang berpendapat jika patung tersebut dihancurkan, lalu bahan hasil penghancuran tersebut dijual maka hal itu diperbolehkan.

Menurut Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subul As-Salam (5:11), alasan pelarangan jual beli patung karena adanya larangan jual beli benda tersebut. Namun, diperbolehkan menjual yang sudah dihancurkan karena tidak lagi disebut patung atau berhala (ash-nam). Tidak ada satupun dalil yang melarang jual beli patung yang sudah dihancurkan.

Sedangkan Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam kitab Minhah Al-‘Allam (6;17) mengemukakan alasan bahwa patung dilarang untuk diperjualbelikan karena dapat mencederai agama serta patung merupakan perantara menuju kesyirikan. Sama halnya dengan jual beli salib dan kitab yang berisikan kesyirikan dan peribadahan kepada Allah juga dihukum haram.

Syaikh Ibnu Taimiyah dalam kita Majmu’ah Al-Fatawa (1:151) adalah ulama yang menunjukkan bahwa patung bisa menjadi perantara menuju kesyirikan. Hal ini berdasarkan kisah orang-orang saleh yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Nuh yang pada saat mereka meninggal dunia, banyak orang lain yang beritikaf di sisi kuburan mereka.

Lalu orang-orang tersebut membuat patung orang saleh tersebut yang kemudian disembah-sembah. Hal ini, menurut Syaikh Ibnu Taimiyah, sudah masyhur dalam kitab tafsir dan hadis, serta lainnya seperti disebutkan oleh Imam Bukhari.

Ayat yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23). Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah nama-nama berhala-berhala orang musyrik. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 389.

Disebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa berhala-berhala tersebut adalah berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 390.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kesyirikan yang muncul di masa Nabi Nuh bahwasanya awal mula kesyirikan itu muncul dari sikap berlebihan terhadap orang saleh. Di antara sikap berlebihan adalah beriktikaf (bersemedi atau berdiam) di kuburnya, berdoa di sisi kubur orang saleh, membuatkan patung atau monumen untuk mengenang mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here