Mereka yang Hijrah ke Habasyah

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Jakarta, Mediadakwah.id – Orang-orang yang memeluk agama Islam di masa-masa awal mendapatkan tekanan yang hebat dari kaum Quraisy. Isyaratpun turun untuk berhijrah demi menyelamatkan agama Islam. Habasyah menjadi negeri pilihan.

Dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 10 isyarat hijrah ini sudah tersirat. Allah melalui firman-Nya mengisyaratkan bahwa Bumi sangatlah luas dan tidak sempit.

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Arab-Latin: Qul yā ‘ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi’ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb

Terjemah Arti: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Menurut tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh yang berada di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), salah satu poin dari Surah Az-Zumar ayat 10 yaitu perintah berhijrah agar bisa menyembah Rabb dan memungkinkan untuk melaksanakan agama.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sudah tahu bahwa raja yang berkuasa di Habasyah yaitu Ashhamah An-Najasyiadalah seorang raja yang adil dan tidak ada seorang pun yang akan teraniaya di sisinya.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan beberapa kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah, melepaskan diri dari belenggu siksaan dan teror yang dilakukan kaum musyrik Quraisy sembari membawa agama Islam.

Masa nubuwah pun telah memasuki tahun kelimanya. Pada bulan Rajab sekelompok sahabat radhiyallahu anhuma berhijrah untuk yang pertama kalinya ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 orang laki-laki dan empat orang wanita yang dipimpin Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Di dalam rombongan itu terdapat pula Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha, putri Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Mereka berdua adalah penduduk Baitulharam pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.” [Mukhashar Siratir-Rasul, Syaikh Abdullah An-Najdi, hal. 92-92]

Rencana kepergian ke Habasyah harus dilakukan dengan sangat teliti. Para sahabat radhiyallahu anhuma memilih bertolak pada waktu tengah malam dengan jalan mengendap-endap. Jangan sampai orang-orang musyrik Quraisy tahu kepergian mereka.

Mereka pun segera menuju pantai. Setibanya di sana takdir Allah mempertemukan mereka dengan dua buah kapal perahu yang memang akan bertolak ke Habasyah. Rupanya rencana kepergian mereka pun diketahui kaum musyrik Quraisy juga.

Setelah mengetahui ada rombongan kaum Muslim yang akan pergi ke Habasyah, orang-orang musyrik Quraisy segera mengejar mereka ke pantai. Namun seusai sampai di pantai, para sahabat sudah bertolak dengan selamat. Merekapun hidup di Habasyah dengan mendapatkan perlakuan yang adil.

Sumber: Sirah Nabawiyah/Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri/Pustaka Al-Kautsar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here