Mimpi yang Membuat Mantan Musisi Hip-Hop Memeluk Islam

Manik Jahnke (kemeja biru) menceritakan kisah perjalanannya sebagai mualaf. (Foto: About Islam)

Berlin, Mediadakwah.id – Di Jerman, beberapa tahun yang lalu, Maik Jahnke dikenal sebagai seorang penyanyi aliran musik hip-hop terkenal sebelum sebuah kecelakaan mobil yang buruk mengubah jalan pemikiran dan hidupnya, sampai dia menemukan jawaban dari seluruh pertanyaannya dan juga kedamaian.

Jahnke tumbuh di sebuah keluarga Jerman yang bisa dibilang cukup ideal. Semua kebutuhan hidupnya terpenuhi mulai dari pendidikan, profesi, dan juga karier. Dia pun bisa memenuhi hasratnya di bidang musik.

Saat Jahnke sudah bisa menghasilkan uang dari pekerjaannya, dia pun menyisihkan sebagian untuk dibelikan peralatan musik. Dari situ dia mulai menuliskan lirik dan membuat musiknya sendiri. Perlahan tapi pasti dia mulai menjalani bisnis musik kecil-kecilannya.

Bersama rekannya, mereka akhirnya mendapatkan kontrak pertama di bidang musik. Bahkan kontrak kedua pun berhasil mereka rengkuh dalam waktu dekat. Tiba-tiba Jahnke dan rekannya mencetak salah satu rekor label terbesar di Jerman. Mereka bermain di mana saja termasuk MTV.

“Hidup enak. Uang enak. Sampai suatu pagi saya mengalami kecelakaan mobil yang sangat buruk,” kata Jahnke beberapa waktu lalu dikutip dari About Islam.

Kecelakaan Mobil

Setelah kecelakaan mobil itu, semua kehidupan Jahnke berubah 180 derajat. Dia lebih banyak memikirkan makna kehidupan yang dijalaninya. Intisari dari kehidupan yang fana serta alasan-alasan mengapa dia hadir di dunia dan apa tujuan hidup yang sebenarnya.

Pada suatu malam dia berdiri di balkon rumahnya dan memandang ke arah langit sambil memandangi rembulan. Dia pun berpikir, “Apa tujuan sebenarnya hidup ini? Peran apa yang sedang aku mainkan?”

Selama masa setelah kecelakaan mobil yang ia alami, lirik-lirik lagu yang dia tuliskan berubah. Kini objek musiknya tertuju kepada Tuhan. Di dalam lirik-liriknya dia menemukan pelipur lara seusai kecelakaan mobil itu. Tapi pertanyaan-pertanyaannya belum terjawab, apa seluruh tujuan kehidupan ini?

Mimpi yang Menggugah

Lalu pada suatu malam Jahnke mengalami mimpi yang aneh tapi mengagumkan. Di dalam mimpi itu dia berada di masa belum ada mobil dan pesawat terbang dan tengah berdiri di sebuah padang pasir di luar benteng sebuah kota.

“Saya bisa melihat karavan berjalan menuju kota itu,” katanya.

Di depannya ada seorang laki-laki berambut hitam dan berjanggut. Dia memegang sebuah tongkat di tangannya dan menggunakannya untuk menuliskan sebuah kalimat di pasir. Kemudia lelaki itu menatap Jahnke dan bertanya kepadanya apakah dia mengerti kalimat yang dituliskan itu.

“Saya tidak mengerti. Kemudian saya terbangun dari mimpi yang telah mengguncang jiwa ini. Dan saya pun menangis selama dua jam lamanya,” kata Jahnke.

Kemudian dia menceritakan mimpi itu kepada orang-orang yang berbeda. Dan beberapa temannya mengintepretasikan mimpinya sebagai mimpi tentang Islam. Melihat Jahnke sedang mencari makna kehidupan di dunia, merekapun menyarankannya untuk mengikuti mimpi itu.

“Saya mulai membaca-baca tentang agama Islam dan kemudian saya pergi ke kota Aachen di mana terdapat pusat studi Islam yang besar. Dan saya pun mengucapkan dua kalimat syahadat di sana,” kata Jahnke.

Menjadi Lebih Baik

Seusai mengucapkan dua kalimat syahadat, Jahnke mulai belajar makna menjadi seorang Muslim. Dia belajar menegakkan salat lima kali sehari dan membaca Al-Qur’an. Butuh waktu baginya untuk menjadi Muslim yang sesungguhnya. Namun dia menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini.

Jahnke pun akhirnya menemukan kedamaian dan kepuasan dalam menyembah Tuhan. Dia juga menemukan teman-teman sekaligus saudara-saudara seiman yang baru. Islam telah membuatnya menjadi manusia yang lebih baik. Jahnke pun menjadi lebih toleran kepada orang lain.

“Sebelum menjadi Muslim, saya tidak terlalu suka orang asing. Tetapi mempelajari tentang perbedaan di dalam komunitas Islam, sayapun meninggalkan setiap hal berbau rasisme di dalam diri. Saya tinggalkan kehidupan lama di dunia hiburan,” katanya.

Sebagai seorang Muslim Jahnke telah melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu beribadah haji, dan umrah. Selama perjalanannya di rumah Allah itu dia merasa sangat terkesan dengan kaum Muslimin yang terdiri dari berbagai macam latar belakang namun menyembah Tuhan yang sama. Tidak ada perbedaan bangsa, keturunan, ataupun warna kulit yang menjadikannya berkasta-kasta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here