Miqdad bin Amr, Pejuang Sekaligus Pemikir

Jakarta, Mediadakwah.id – Miqdad adalah orang ketujuh yang menyatakan keIslamannya secara terbuka. Pada masa Jahiliyah, nama belakangnya dinisbatkan pada ayah angkatnya, Al-Aswad ‘Abdi Yaghuts.

Namun penyandaran tersebut harus kembali kepada ayah kandungnya (Amr bin Sa’ad) disebabkan turunnya ayat yang melarang merangkaikan nama anak angkat dengan nama ayah angkatnya.

Perjuangan, kebaikan serta keutamaannya, digambarkan dengan sangat baik oleh Abdullah bin Mas’ud. Di mana dia berkata, “saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini…”

Yang menarik darinya adalah ia bukan hanya sekedar sahabat yang menyatakan keIslamannya dengan terang-terangan. Dia juga seorang pejuang dan juga pemikir. Dalam bukunya yang berjudul Rijaal Haula Ar-Rasul, Khalid Muhammad Khalid (1992:178) menggambarkan Miqdad dengan menuliskan: 

“ Ia adalah seorang filosof dan ahli fikir. Hikmat dan filsafatnya tidak hanya terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh dan lurus, sementara pengalamanp-pengalamannya menjadi sumber bagi penunjang bagi filsafat itu.”

Kalimat itu bukan omong kosong, melainkan sebuah fakta yang nyata. Kalimat itu terealisasikan pada tiga hal yang pernah dialami oleh Miqdad, dan ini banyak diceritakan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya tadi, diantaranya:

Pertama, ketika kaum muslimin untuk yang pertamakalinya berperang dan harus mengahadapi 1000 musuh dengan 300 pasukan, sehingga membuat pesimis banyak orang, tampillah Miqdad sebagai pembalik kata pesimis menjadi optimis.

Penampilan itu ia tampakkan dengan perkataan yang disampaikannya pada saat musyawarah sedang berlangsung. Perkataannya itu bagaikan anak panah yang lepas dari bususrnya. Dengan gagahnya dia berkata:

“Ya Rasulullah…. Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda…! Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu disini, tetapi kami akan mengatakan kepada anda: ‘Pergilah anda bersama tuhan anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang disamping anda…!”

Ia melanjutkan, “Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur disebelah kanan dan disebelah kiri anda, dibagian depan dan dibagian belakang anda, sampai Allah memberi anda kemenangan…!”

Khalid berkomentar, “… dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalir semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kataitupun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan!” (Khalid, 1992: 177)

Kedua, ketika ia pernah ditanya oleh nabi perihal jabatannya sebagai amir: “Bagaimanakah pendapatmu menjadi amir?” Dengan penuh kejujuran, dijawabnya: “Anda telah menjadikan daku menganggap diri di atas semua manusia sedang mereka semua di bawahku…. Demi yang telah mengututs anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya…!” (Khalid, 1992: 179).

Jawaban indah ini, ia dapatkan berkat pemikirannya pada hadits yang selalu ia dengarkan, yaitu “orang yang berbahagi, ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.” Jadi dengan meniggalkan jabatan yang penuh fitnah, ia yakin kebahagiaan hakiki dapat dirasakan.

Ketiga, pernah ada beberapa laki-laki yang berbicara pada Miqdad, “Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah saw.! Demi Allah, andainya kami dapat melihat apa yang anda lihat, dan menyaksikan apa yang anda saksikan…!”

Pernyataan tersebut dibalas oleh Miqdad dengan sangat indah, akibat pembelajaran yang dia peroleh dari hadits nabi yang berbunyi, “bahwa hati manusia lebih cepat berputarnya daripada isi periuk di kala menggelegak…” Dimana Miqdad berkata: 

“Apa yang membuat kalian ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah, bukankah di masa Rasulullah saw. banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka jahannam! Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan nabi kalian”

Khalid kembali berkomentar, “…. Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dan dalam dapat menembus barang ghaib yang tidak terjangkau dibalik cita-cita dan keinginan itu. Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah saorang penduduk neraka? Bukankah tidak mustahil ia akan jatuh kafir bersama orang-orang kafir lainnya.” (Khalid, 1992: 180-181)

Selain itu, kecintaannya terhadap agama Islam sangatlah besar. Sesuai dengan yang dikatakan Khalid bahwa ketika cinta dan hikmat itu saling berkait, maka akan menjadikannya tinggi serta membuat tidak puas hanya dengan mencintai tanpa menunaikan kewajiban dan memikul tanggung jawab. 

“Biar saya mati, asal Islam tetap jaya.” Dari perkataan inilah ia memang layak pendapat ucapan penghormatan dari Rasul, “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa Ia mencintaimu,” ujarnya. (Khalid, 1992: 182). 

Sumber: Khalid Muhammad Khalid, Rijaal Haula Ar-Rasul   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here