Mosi Integral Wujud Tingginya Akhlak dan Pengorbanan Pak Natsir

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Dr. Adian Husaini, menekankan umat Islam di Indonesia perlu mempelajari integritas akhlak dan jiwa pengorbanan Mohammad Natsir. (Foto: Tangkapan layar pidato 71 Tahun Mosi Integral kanal YouTube Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

Jakarta, Mediadakwah.id – Pengorbanan Mohammad Natsir dalam mempersatukan bangsa Indonesia melalui Mosi Integral puluhan tahun yang lalu harus dipandang sebagai sebuah pelajaran yang sangat penting terutama untuk situasi saat ini.

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustadz Dr. Adian Husaini mengatakan, umat Islam semestinya mampu melihat bagaimana seorang negarawan Muslim mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang pada saat itu memiliki ideologi yang berbeda-beda.

“Kita mesti bersyukur karena Pak Natsir disebut sebagai Bapak NKRI. Tapi kalau diperhatikan, Pak Natsir itu punya integritas akhlak yang tinggi,” kata Dr. Adian dalam pidato ’71 Tahun Mosi Integral Mohammad Natsir’ yang disiarkan melalui kanal YouTube Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Sabtu (3/4/2021).

Dr. Adian melanjutan, selain integritas akhlak yang sangat tinggi, Pak Natsir juga memiliki jiwa pengorbanan yang besar untuk bangsa Indonesia.

Di samping itu Pak Natsir juga memiliki kemampuan lobi-lobi yang piawai dan konsep bernegara yang matang. Sehingga Bung Karno mendapuk beliau sebagai Perdana Menteri seusai terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berkat Mosi Integral yang diajukannya.

“Kita sulit membayangkan beliau melobi berbagai kalangan yang secara ideologi berbeda tetapi mereka percaya Pak Natsir, karena tahu dengan integritas yang beliau miliki,” kata Dr. Adian.

Berkaca kepada apa yang dilakuan oleh Pak Natsir 71 tahun yang lalu, Dr. Adian mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk mempelajari integritas akhlak dari tokoh nasional yang pernah jadi Ketua Fraksi Masyumi itu.

“Akhlak adalah kunci,” kata Dr. Adian yang pernah berkarier sebagai wartawan selama beberapa tahun itu.

Pelajaran dari Pak Natsir lainnya yang patut dijadikan panutan bagi umat Islam yaitu kedekatan beliau dengan tradisi ilmu. Menurut Dr. Adian, Pak Natsir sedari muda memang dekat dengan keilmuan.

Bahkan karena dikenal sebagai anak muda yang cerdas pada waktu itu, Pak Natsir sempat ditawari untuk sekolah di Belanda atau Jakarta.

“Namun peluang itu tidak diambil oleh beliau, padahal orang tuanya sangat ingin beliau menjadi sarjana hukum,” kata Dr. Adian menjelaskan.

Pak Natsir, lanjutnya, malah memilih untuk terjun di dalam dunia pendidikan dan berkarier sebagai seorang guru yang tidak mendapatkan bayaran.

Namun, ujar Dr. Adian, dari sinilah beliau mendapatkan ilmu-ilmu yang kemudian mengantarkannya sebagai tokoh nasional besar yang berhasil mempersatukan negara Indonesia.

“Dia dididik oleh guru yang hebat. Dalam mosi integral kita bisa lihat bagaimana luar biasa hebatnya dia bisa melobi berbagai tokoh dari lintas agama dan ideologi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here