Pasca Peristiwa Makassar, Begini Pesan Gus Baha

Sumber photo:https://www.republika.co.id/berita/qnew31320/tangis-gus-baha-untuk-wni-muslim-yang-bekerja-di-luar-negeri

Jakarta, Mediadakwah.id – Menanggapi tragedi yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (27/3/2021), Ulama NU, K.H Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengatakan Islam menolak segala hal yang berlebihan. Dalam satu kajian beliau yang di unggah Fan Page Santri Ganyeng Nusantara, Gus Baha menjelaskan, bahwa sesuatu yang berlebihan pasti mempersulit orang.

“Teroris itu jelas salah”, tegas Gus Baha.

Apapun tujuan yang mendasari tindakan ekstrim tersebut, menurut Gus Baha tidak dapat dilandaskan kepada ajaran Islam yang tidak membolehkan sesuatu yang berlebihan.

Islam menuntut seseorang untuk bersikap bijak dalam menunaikan kebaikan. Gus Baha memberikan contoh kegiatan Shalat. Kita tahu bersama bahwa Shalat adalah kebaikan, namun bila Shalat seseorang membawa kepada kegaduhan sosial, tentu harus dikurangi. Kita tahu Nabi adalah sosok yang paling khusyuk dalam menunaikan shalat, kecintaannya dengan Allah seringkali membuat beliau ingin berlama-lama dalam ibadah.

Namun, tatkala beliau menjadi imam, lantas mendengar seorang bocah menangis, beliau mempercepat Shalatnya karena tidak ingin Ibu sang anak tersiksa dengan keinginannya untuk lekas menghampiri buah hatinya.

Inilah yang dikatakan Gus Baha sebagai sebab mengapa setiap ayat al-Qur’an – yang memerintahkan beramal baik, senantiasa ditutup dengan nasehat:

“…dan janganlah berlebihan!”, Jelasnya

Dalam konteks dakwah, Gus Baha menerangkan pentingnya menyampaikan Islam dengan harapan bukan dengan kekerasan, sehingga berdakwah butuh kesabaran, sebagaimana para Ulama Nusantara yang melakukan Islamisasi di tanah air.

“Agama di Indonesia itu (dulu) Hindu-Buddha, tahu-tahu umat Islam terbesar di dunia itu Indonesia! Ini merupakan bukti bahwa agama ini “menaruh harapan’” ucap Gus Baha.

Maka dari itu, beliau menuturkan bahwa penting bagi kita untuk istiqomah melakukan kebaikan. Kebaikan tidak boleh dihentikan hanya karena orang fasik menguasai sekitar kita, demikian pula itu tetap wajib dilakukan bila orang-orang shaleh telah tersebar di antara kita.

“Kebaikan ada di tangan Allah. Jika kau benci dengan tetanggamu karena dia fasik, lantas siapa yang menjamin ia fasik terus?” Begitulah pesan Gus Baha yang perlu kita renungkan.

Red: Jaka Setiawan
Rep: Azzam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here