Pentingnya Mendoakan Anak ketika Masih di Dalam Sulbi Ayahnya

0
58
Mendoakan kebaikan untuk anak semenjak masih berada di dalam sulbi ayahnya ternyata merupakan sunnah yang penting. (Foto: Shutterstock)

Jakarta, Mediadakwah.id – Mendoakan keturunan atau anak-anak generasi penerus kita semenjak mereka masih berada dalam sulbi ayahnya ternyata memiliki kedudukan yang penting. Sebab hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mendapatkan perlakuan buruk dari para orang-orang musyrik Thaif yang menolak seruan Nabi menuju Islam.

Saking buruknya perlakuan para orang-orang musyrik Thaif itu sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpakan dua bukit Akhbasy kepada penduduk itu. Namun tawaran kedua malaikat itu ditolah oleh Rasulullah yang terkenal memiliki hati lembut dan penyayang.

“Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka hamba yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Dikutip dari buku ‘Islamic Parenting’ terjemahan karya Syaikh Jamal Abdurrahman, doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah itu pun kemudian dikabulkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan menghadirkan anak-anak yang saat taat kepada Rabbnya. Inilah salah satu contoh pentingnya mendoakan anak-anak kita bahkan sebelum mereka lahir sekalipun.

Kita juga mendapatkan petunjuk dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan kemaslahatan bagi anak-anak di masa mendatang. Untuk itu, beliau SAW bersabda, “Seandainya salah seorang di antara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa:

بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

‘Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.’

Hadits ini mengandung anjuran bahwa permulaan yang dilakukan dalam kegiatan hubungan badan sebaiknya bersifat rabbani, bukan syaithai. Maka apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan pasangan suami berlandasakan pada ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggu setan.

Selain itu, Allah juga memerintahkan para orang tua untuk memilihkan calon suami atau istri yang saleh untuk anak-anaknya ketika akan menikahkan mereka. Tujuan supaya mereka kelak mampu membesarkan dan mendidik generasi yang saleh pula.

Sebab ada pepatah yang menyebutkan bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu maka tidak akan bisa memberikan sesuatu. Maka, bibit yang tidak saleh jelas tidak akan bisa memberikan keturunan yang saleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here