Pribadi Hebat Menurut Buya Hamka

Oleh: Fatih Madini
(Mahasiswa Program Jurnalis Profesional STID Mohammad Natsir)

Seorang ulama multidisiplin, Buya Hamka, pernah berkata, “Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi “mati”, sebab dia bukan orang masyarakat.

Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, lain daripada kesenangan dirinya.

Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup” (Hamka, “Pribadi”, 1950: 14)

Intinya, Kalam itu hendak menyindir orang-orang pintar yang tidak mempunyai pribadi yang kuat, sehingga menjadi “mati” tatkala berada di tengah umat.

Bahkan tidak jarang pula sebagian dari mereka menjadi “Pak Turut”, yakni orang yang menenggelamkan pribadinya sendiri ke dalam pribadi orang lain.

Kepribadian inilah yang sekarang disebut sebagai “soft skill” atau dalam Islam disebut sebagai adab, yang terwujud dalam nilai-nilai yang baik. Mulai dari kedisiplinan, kesungguhan, kejujuran, kesabaran, amanah, tanggung jawab, inisiatif, kepedulian, kedewasaan, kemandirian, dll

Mungkin, di luar sana, banyak insan-insan yang pintar, pandai, cerdas, juara kelas dan berbagai olimpiade, jago menulis dan berbagi ilmu (entah lewat institusi pendidikan, seminar ataupun kajian lainnya), punya gelar dan status sosial bergengsi, jago berbicara bahasa asing, dan masih banyak lagi.

Tapi, mungkin pula, sedikit dari mereka yang mempunyai kepribadian yang baik. Tentu masih banyak, tapi jika dikomparasikan, sepertinya tidak

Ingin rasanya mempunyai pemimpin yang peduli dan adil kepada rakyatnya. Guru yang selalu memberikan keteladanan (entah soal kebersihan, kedisiplinan, kepedulian, dll) bukan sekedar yang banyak wawasan dan jago menulis.

Dokter yang lebih mendahulukan kepentingan pasiennya ketimbang kepentingan perutnya sendiri.

Hakim yang betul-betul memutuskan perkara dengan hikmah bukan yang ketika disogok, harus menajamkan hukum ke bawah namun menumpulkannya ke atas

Wartawan yang jujur dan mengedepankan nilai kewajibannya sebagai Muslim tatkala menulis berita. Dan masih banyak lagi.

Merekalah orang-orang yang selalu dirindukan kehadirannya dan diharapkan terus ada mengisi dunia. 

Merekalah yang mampu menjadi manusia yang baik dan bermanfaat, bukan sekedar bisa hidup di tengah umat tapi hanya menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan orang lain. Bahkan, meskipun potensinya bukan emas atau perak, tetap saja mereka akan terangkat dan selalu dibutuhkan masyarakat.

Memang benar orang berilmu itu derajatnya tinggi. Tapi seberapa lama ketinggian derajat itu akan bertahan sampai akhirnya harus jatuh tersungkur ke lubang yang hina karena keringnya kepribadian dan nilai-nilai adabnya?

Maka, cukuplah jadi manusia yang punya pribadi yang baik dan tinggi juga mampu memberi manfaat di tengah umat dengan kepribadian dan sedikit ilmu yang dipunya. Dengan begitu, ia akan selalu hidup di tengah umat

Namun, alangkah baiknya menjadi keduanya, punya banyak ilmu dan wawasan, serta mempunyai kepribadian yang baik. Sebab, kalau memang bisa, kenapa tidak?

Red: Jaka Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here