Shanti Nur Abidah, Muslimah Muda Bergelar Master Catur Dunia

Jakarta, Mediadakwah.id – Dunia catur Indonesia saat ini memiliki talenta-talenta muda yang mengagumkan, di antaranya adalah Shanti Nur Abidah. Muslimah kelahiran Semarang, 15 September 2001 ini adalah atlet catur kebanggan Indonesia.

Pada tahun 2015, The International Chess Federation (FIDE) atau badan catur dunia, menggelarinya dengan Woman FIDE Master (WFM), hingga di tahun 2016 pencapaiannya yang gemilang mengantarkannya meraih titel sebagai Woman International Master (WIM).

Kedua orang tua Shanti, Budi Santoso dan Sugiarti, tidak pernah menyangka anak mereka memiliki bakat di bidang olahraga catur. Dilansir TVRI Sport, perkenalan Shanti dengan olahraga catur bermula ketika sewaktu kecil dia sering melihat ayahnya bermain catur di lingkungan rumah.

Shanti, anak ketiga dari empat bersaudara ini, kata ayahnya, memang dikenal memiliki pribadi yang pendiam. Namun di balik sikapnya yang kalem ia memiliki ketekunan yang luar biasa.

Ketika duduk di kelas 2 SD, salah satu guru sekolahnya menyadari kemapuan Shanti dan melatihnya. Ibu Shanti mengakui tidak mengetahui kemampuan Shanti sebelumnya, yang ia tahu Shanti selalu pergi sekolah lebih cepat dari teman-temannya.

Hal itu ternyata dilakukan Shanti untuk melatih kemampuan caturnya bersama para gurunya sebelum waktu sekolah. Kerja keras itu ia lakukan sampai akhirnya pihak sekolahnya, SD Rejosari, menunjuk Shanti untuk mengikuti perlombaan catur antarsekolah di Semarang.

Pasca meraih penghargaan pada berbagai kejuaraan catur regional, karier Shanti sebagai pemain catur mulai beranjak serius. Telebih ketika ia sukses menjuarai kejuaraan nasional catur di Palembang pada 2011, dan mewakili Indonesia pada ASEAN Primary School Sport Olympiad 2011 sebagai juara di di nomor catur klasik, serta perak di nomor catur cepat. Shanti juga tampil di podium tertinggi untuk kelas di bawah usia 14 tahun di kejuaraan catur Internasional di Brasil 2014.

Raihan gemilang ini membuat Shanti tidak banyak mendapatkan kendala ketika meraih dua emas dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah tahun 2018 di kategori cepat dan kilat perorangan putri.

Hasil itu kemudian mengangkatnya sebagai perwakilan Jawa Tengah, dalam seleksi nasional persiapan SEA Games Manila 2019 yang diselenggarakan PB Persatuan Catur Seluruh Indonesia pada awal 2019.

Harapan Shanti untuk berangkat ke Filipina terkabulkan. Ia sukses mendapatan posisi terbaik untuk kategori putri, dan meraih poin enam dari sembilan babak dengan predikat tak terkalahkan.

Demi melanjutkan karirnya di level yang lebih tinggi, kini Shanti harus rela berjauhan dengan orang tuanya untuk menjalani pelatihan intensif sebagai tim catur Universitas Gunadarma. Kendati orangtua Shanti sempat berat menyetujui keputusan anak gadinya untuk tinggal di Ibukota namun mengingat semangat Shanti yang begitu membara, keduanya akhirnya mengizinkan ia untuk menimba imu di kampus tersebut dan menjadi atlet catur professional.

Shanti benar-benar membuktikan keputusannya sendiri. Tepat pada pada 18 Desember 2020, ia mewakili Universitas Gunadarma berhasil menyumbang dua mendali perak untuk Indonesia dalam ajang bergengsi Asian University Chess Championship Online. Kejuaraan internasional beberlangsung secara virtual, dan diselenggarakan oleh National University Sports Federation of Iran di bawah naungan Asian University Sports Federation yang bekerja sama dengan Asian Chess Foundation.

Sosok Shanti mudah dikenali, karena hijab panjangnya selalu menemani sepanjang waktu. Dia adalah cerminan Muslimah muda yang dapat meraih prestasi gemilang tanpa perlu meninggalkan syariat Islam. Meskipun begitu, perjalanan Shanti belum selesai. Menginjak usia yang ke-20, jenius catur ini mengaku masih berjuang untuk mencapai mimpi tertingginya, yakni meraih titel tertinggi Grand Master Catur Dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here