Stigma ‘Islam-Kiri’ Senjata Pemerintah Prancis Melawan Kritik

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menghadapi pemilihan umum pada 2022. Segala cara dilakukan untuk mencegah kekalahan elektoral. Macron kemungkinan besar akan berhadapan dengan kandidat populis sayap kanan pemimpin Partai Barisan Nasional Marine Le Pen. Para pemilih Prancis baru akan pergi ke tempat pemungutan suara pada musim semi 2022. Namun, para kandidat sudah mulai bersiap untuk ajang pemilu, sementara prospek pemilihan sudah mulai mewarnai pembuatan kebijakan.

Geliat pembantu Macron, Menteri Pendidikan Tinggi Prancis, Frederique Vidal, mengumumkan bahwa negara akan menyelidiki sejauh mana “Islam-Kiri” (atau l’islamo-gauchisme dalam bahasa Prancis) telah merambah universitas Prancis. Istilah Islam kiri sering digunakan di Prancis oleh politisi sayap kanan untuk mendiskreditkan lawan partai sayap kiri. 

Di parlemen Prancis, Vidal melanjutkan dengan mengatakan akan melakukan “pengawasan terhadap semua penelitian” yang dilakukan di universitas jika ada indikasi menganut Islam-kiri.

Namun, para kritikus mengecam langkah pemerintah sebagai “perburuan penyihir” untuk membungkam kebebasan akademis, karena tujuan partai Macron ini adalah untuk semakin menekan penelitian yang berupaya mengevaluasi kembali sejarah kolonial Prancis secara kritis.

Pusat Penelitian Ilmiah Nasional bergengsi Prancis, Scientific Research National Center (CNRS) mengutuk upaya pemerintah untuk mengawasi para akademisi dan penelitian mereka. CNRS menyebut Islam-kiri sebagai “stigma politik” yang tidak memiliki dasar ilmiah. Mereka yang mencoba mengawasi universitas dengan stigma Islam-kiri, hanya untuk mencekik “kebebasan akademik” dalam upaya “menstigmatisasi komunitas akademis. “

Beberapa akademisi menuduh Frédérique Vidal berusaha mengalihkan perhatian publik dari situasi dramatis yang dialami siswa akibat krisis kesehatan akibat pandemi Covid 19. “Pekan lalu, Vidal hadir di Senat untuk menanggapi kesusahan siswa. Ada 20 persen siswa yang menggunakan bantuan pangan, belum lagi bunuh diri dan tekanan psikologis. Dia bertanggung jawab langsung,” kata Christelle Rabier, dosen di EHESS, yang diwawancarai oleh Huffington Post.

Islam-kiri Makhluk Apa?

Kapan dan oleh siapa kata pertama kali kata dengan makna peyoratif ini digunakan? Kita bisa merujuk sebuah artikel yang ditulis oleh ilmuwan politik dan sejarawan Pierre-André Taguieff. Taguieff pertama kali menggunakan istilah dalam esai ‘The New Judeophobia ‘pada tahun 2002, bahwa Islam-kiri untuk merujuk pada kolusi antara ekstrim kiri di barat dan Islamis.

Taguieff telah mengimajinasikan istilah peyoratif ini sebagai jenis baru aliansi antara Islamis dan “kiri jauh” untuk menggambarkan gerakan Islamo-fasisme yang melibatkan unsur ekstrem kiri anti-Zionisme. Pandangan politik Taguieff ini dapat digambarkan sebagai Gaullist, dipengaruhi oleh pemikiran Charles de Gaulle, yang mengusung ide eksepsionalisme Prancis.

Taguieff menuduh, desakan kaum kiri untuk menjadi anti-fasis, anti-rasis, dan anti-imperialis, adalah upaya mereka untuk menahan Prancis dan membuatnya meragukan misi sejarahnya.

Beberapa tahun kemudian, istilah ini digunakan oleh filsuf Pascal Bruckner dalam bukunya pada tahun 2015 untuk menggambarkan aliansi antara ateis yang “kiri jauh” dengan Islamis radikal.

Bruckner menuding, golongan kiri di dunia barat melihat potensi Islam untuk menimbulkan kerusuhan masyarakat, oleh karena itu ini menjadi taktik mereka mempromosikan aliansi sementara dengan partai Islam reaksioner. Sementara itu, Islam dianggap berpura-pura bergabung dengan kiri dalam menentang rasisme, neokolonialisme, dan globalisasi untuk mencapai tujuan sebenarnya mereka memaksakan “teokrasi totaliter,” kata Bruckner.

Marine sayap kanan Prancis Le Pen juga telah menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada ancaman terbesar abad ini yang merupakan aliansi yang tidak sehat antara “fanatik Islam” dan kiri Perancis.

Penggunaan “Islam-kiri” tidak berhenti sampai disitu. Hal ini telah digunakan akhir-akhir ini oleh konservatif yang menggunakannya sebagai alat untuk menuduh aliansi kiri dengan Islamis bertentangan dengan nilai-nilai barat.

Bagi sebagian orang, “Islam-kiri” adalah istilah Islamofobia, yang digunakan oleh mereka yang takut akan aliansi antara Islamis agama radikal dan kiri barat. Baru-baru ini, orang Barat telah melihat “Islam-kiri” lebih eksis di media. Contoh terbaru adalah dengan kongres Muslim AS Ilhan Omar, yang telah dituduh anti-Semitisme.

Lainnya adalah seperti aktivis Prancis dan intelektual publik Bernard-Henri Levy. Levy dianggap sebagai makelar perang karena mempromosikan diri membujuk presiden Prancis yang konservatif untuk mendukung pemberontak Libya, membujuk Prancis untuk membom Libya untuk menggulingkan Muammar Gaddafi. Levy mengimajinasikan Islam-kiri sebagai “aliansi baru yang besar antara merah dan cokelat baru” dan Levy memperluas maknanya sebagai upaya untuk ‘menjatuhkan’ peradaban barat.

Siapa yang menggunakan istilah itu sekarang?

Istilah ini telah lama digunakan sebagai istilah merendahkan oleh sayap kanan untuk menyerang sayap kiri. Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen telah menggunakannya sebagai senjata politik melawan lawan yang menuduh sayap kiri melemahkan negara Prancis dengan bersekutu dengan Muslim dan mengkritik Prancis.

Baru-baru ini, bagaimanapun, dalam serangkaian langkah politik yang tampaknya diperhitungkan, pemerintah Macron ingin mulai menarik pemilih sayap kanan dengan mengadopsi istilah tersebut.

Pada November tahun lalu, Menteri Pendidikan Prancis, Jean-Michel Blanquer, mencoba menstigmatisasi sosiolog Prancis-Iran Profesor Farhad Khosrokhavar sebagai seorang ” Islam-kiri ” yang menuduhnya menyebarkan “radikalisme intelektual.”

Apa kejahatan Khosrokhavar? Mengajar ide-ide Amerika seperti ‘Teori Ras Kritis’ yang bertujuan untuk mempelajari masyarakat dan budaya karena bersinggungan dengan kategorisasi ras, hukum, dan kekuasaan.

Awal bulan ini, Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, menuduh Le Pen – yang dianggap sebagai anti-Islam – bersikap lunak pada agama. Pemerintaahn Macron menuduh anti-Islam masih lunak.

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Tinggi Prancis, Vidal, berkata di televisi nasional, “Saya pikir Islam-kiri menggerogoti masyarakat kita secara keseluruhan, dan universitas tidak kebal dan merupakan bagian dari masyarakat kita.”

Mengapa sekarang, dan apakah itu penting?

Protes anti rasisme yang dipicu oleh pembunuhan George Floyd di tangan polisi di AS bergema luas di Prancis, yang memiliki sejarah kekerasan polisi terhadap orang kulit berwarna.

Ketika protes menjalar ke Prancis selama musim panas, lembaga politik negara, yang secara luas menyangkal adanya rasisme sistemik, menyematkan masalah pada kekuatan kiri di universitas karena terlalu fokus pada rasisme, kolonialisme dan diskriminasi struktural.

Kampus di Prancis dianggap terlalu fokus pada ketidaksetaraan dan rasisme Prancis, akibatnya generasi siswa yang lebih muda mengambil pandangan yang lebih kritis tentang masyarakat Prancis.

Presiden Universitas Sorbonne yang bergengsi, Jean Chambaz, baru-baru ini membalas dengan menuduh pemerintah bermain politik dan berusaha menggunakan bahasa polarisasi menjelang pemilihan presiden 2022.

Masalah dalam masyarakat bukanlah “Islam-kiri” yang tidak jelas, kata Chambaz; sebaliknya, masalah di masyarakat adalah mewabahnya “diskriminasi, ini adalah ghettoisasi, ini adalah ketidaksetaraan sosial dalam akses ke pekerjaan, akses ke pendidikan, budaya, dan kegagalan kebijakan publik di bidang ini selama lima puluh tahun.”, tegas Chambaz.

Chambaz bahkan menuduh pemerintah mengadopsi istilah sayap kanan mengacu pada teori konspirasi berbahaya abad ke-20, yang berbicara tentang konspirasi Judeo-Bolshevik yang bertekad untuk mengambil alih Prancis.

Ketika kelompok sayap kanan melonjak popularitasnya dan penanganan Macron terhadap pandemi Covid-19 telah membuat para pemilih berbalik melawannya, presiden dan para pembantunya dengan putus asa berusaha untuk mengadopsi beberapa bahasa sayap kanan untuk mencegah kekalahan di pemilihan umum tahun.

***

Sumber: TRT World | Le Journal du Dimanche | France24
Red: Jaka Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here