Turunnya Surah Al-Lahab

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Jakarta, Mediadakwah.id – Dalam setiap dakwahnya di Kota Makkah, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kerap mendapatkan gangguan dari para pemuka kaum musyrikin Quraisy. Salah satu mastermind alias dalang di antara mereka yaitu Abu Lahab dan istrinya yang bernama Ummu Jamiil.

Bahkan Ummu Jamiil tidak pernah mengenal lelah dalam mengganggu Rasulullah. Bukan hanya sering melontarkan kata-kata yang tidak pantas, Ummu Jamiil juga sering kali menaruh kotoran dan duri-duri di depan pintu rumah Rasulullah.

Pernah suatu hari Rasulullah hendak pergi ke Kakbah untuk menemui Abu Bakar radhiyallahu’anhu dan para sahabatnya yang lain. Setelah berpamitan kepada Khadijah radhiyallahu’anha, Rasulullahpun segera menuju pintu rumah.

Namun ketika daun pintu rumahnya dibuka, Rasulullah kaget bukan kepalang karena mendapati kotoran dan duri-duri di depannya. Namun bukannya mengeluh dan memaki pelakunya, beliau hanya berkata lembut, “Bagaimana perlakuan tetangga ini?”

Ya, Ummu Jamiil dan Abu Lahab adalah tetangga Rasulullah. Bahkan rumah mereka berdekatan dengan baginda nabi shallallahu’alaihi wasallam. Tetapi perilaku mereka sangat tercela dan tidak bisa menghormati tetangga sekaligus kemenakannya sendiri.

Di sini kita mendapatkan pelajaran penting betapa besarnya pahala apabila kita memperlakukan tetangga kita dengan sangat baik.

Pernah juga suatu hari Ummu Jamiil mencari-cari keberadaan Rasulullah. Pada setiap orang yang ditemuinya di sepanjang jalan dia bertanya, “Di mana Muhammad? Di mana Muhammad?”

“Muhammad ada di Kakbah bersama Abu Bakar,” kata seorang warga Makkah kepadanya.

Mendengar jawaban itu, Ummu Jamiil segera menuju Kakbah dengan sorot mata yang tajam sembari membawa batu besar di tangannya. Rupanya dia ingin mencelakai Rasulullah. Apa pasal?

Setibanya di Kakbah, dia pun bertemu dengan Abu Bakar. “Di mana sahabatmu itu?” tanya Ummu Jamiil kepada Abu Bakar dengan napas terengah-engah.

Mendengar pertanyaan Ummu Jamiil, Abu Bakar terheran-heran. Apa maksud istri Abu Lahab itu? Padahal Rasulullah sedang berada di sampingnya persis.

“Dia telah membuat syair tentangku, aku pun bisa membuat syair tentangnya!” kata Ummu Jamiil tanpa sempat memberikan kesempatan kepada Abu Bakar untuk menjawab pertanyaannya.

“Yang tercela…kami menentangnya… Perintahnya, kami abaikan… Agamanya, kami benci…tercela!” kata Ummu Jamiil.

Syair yang dikumandangkan Ummu Jamil dibuat setelah Allah menurunkan Surah Al-Lahab yang isinya menjelaskan tentang kondisi Abu Lahab dan istrinya di neraka nanti.

Setelah mengumandangkan syair itu, para kaum musyrikin Quraisy pun memanggil Rasulullah dengan sebutan ‘yang tercela’. Para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam merasa sangat malu dibuatnya, namun Rasulullah menenangkan mereka.

“Karena sesungguhnya yang mereka caci adalah yang tercela, sedangkan aku adalah yang terpuji,” kata Rasulullah.

Setelah mencela Rasulullah dengan syair, Ummu Jamiil pun segera pergi meninggalkan Abu Bakar dan yang lainnya.

Melihat tingkah polah Ummu Jamiil yang aneh, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, engkau melihat bahwa dia tidak dapat melihatmu?”

Rasulullah menjawab alasan di balik mengapa hal itu bisa terjadi kepada Ummu Jamiil, “Allah telah membutakan pandangannya.”

Adapun tersinggungnya Ummu Jamiil dikarenakan Allah menurunkan Surah Al-Lahab pada saat Rasulullah melakukan khotbah di Bukit Shafaa yang mengajak penduduk Kota Makkah untuk mengimani Allah semata.

Di sana hadir pula Abu Lahab, dan sesuai khotbah Rasulullah dia pun menghampiri kemenakannya itu sambil mencelanya, “Celakalah kamu ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami?”

Maka Allah pun segeran menurunkan Surah Al-Lahab.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ . مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ . سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ . وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ . فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

(Tabbat yadaa abii lahabiw watabb. Maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wamaa kasab. Sayashlaa naaron dzaata lahab. Wamroatuhuu hammaalatal hathob. Fii jiidihaa hablum mim masad)

“Binasalah kedua tangan Abu lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut.”

Sumber: The Great Story of Muhammad/Ahmad Hatta dkk/Maghfirah Pustaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here